Ungkap Strategi Marketing Monomolly, Bisnis Fashion yang Banjir Orderan!

monomolly
Bagikan artikel ini bila bermanfaat!

Monomolly, bisnis fashion yang dirintis oleh perempuan asal Jakarta ini menjadi salah satu brand fashion lokal yang sangat terkenal. Monica Amadea, CEO dari Monomolly telah memulai merintis usahanya pada tahun 2017 atau sejak umurnya menginjak 19 tahun. Wahh, young entrepreneur nih! Bisnis fashion Monomolly yang memiliki tagar #JoinTheTrend ini merupakan brand fashion yang terus berinovasi untuk menyediakan pakaian yang nyaman, trendy dan friendly bagi small maupun big size.

Awal mula Monomolly

Perempuan yang berkuliah di bandung ini awalnya memulai bisnis secara nekat agar mampu membayar biaya kuliah sendiri. Dengan modal 2 juta dan berlatar belakang oleh hobinya berbelanja dan mix and match outfit, mendorongnya membuat sebuah clothing line bernama Monomolly. CEO Monomolly, Monica mengungkapkan Ia adalah tipe orang yang impulsif dan spontan dalam melakukan kegiatan marketing. Melewati trial and error, menjadikan Ia banyak belajar dari pengalamannya sendiri. Dalam menjalani bisnis fashion, Monica juga sering mengalami hambatan dan masalah, namun Ia menanggapi hal tersebut dengan baik dan menjadikannya sebagai hal yang membangun bisnis fashionnya. 

Memulai bisnis di usia muda, cukup menjadi tantangan bagi Monica, apalagi Ia menjalankan bisnisnya seorang diri hampir selama 6 bulan. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu, Monica banyak menjalin hubungan baik dengan mentor dan teman-teman entrepreneur lain, sehingga ia mendapat relasi dan ilmu dari sesama entrepreneur. Monica menyampaikan agar teman-teman yang ingin memulai bisnis untuk memulai, mulai dari apa yang kalian punya, intinya lakukanlah apa yang ada di pikiran Anda. 

Strategi marketing bisnis fashion Monomolly

Nah, inilah saatnya kita ungkap strategi marketing Monomolly, brand yang sempat viral karena banjir orderan saat event 10.10 Sale. Yuk, simak!

1. Ketahui tren fashion

Dikutip dari parapuan, Monica sangat mengikuti tren, agar produknya sesuai dengan tren yang berlaku di masyarakat. Misalnya saat booming drama korea β€œStart Up”, saat menonton episode pertama, Ia tertarik dengan setelan jas yang dipakai oleh salah satu pemeran utama drama tersebut.  Ia langsung menghubungi tim produksi dan melakukan launching setelan jas tersebut seminggu setelahnya. Dengan mengikuti tren tersebut Monomolly berhasil menjual puluhan ribu potong setelan jas, bahkan setelah drama tersebut tamat. Masih terdapat antusiasme masyarakat. Nah, melalui strategi ini, Anda dapat mengembangkan produk dan meningkatkan brand awareness bisnis Anda, dengan mengikuti tren, maka bisnis akan tetap bertahan meskipun tanpa menghilangkan keunikan bisnis itu sendiri.

2. Ketahui keinginan konsumen

Monomolly mengembangkan produknya melalui interaksi dengan konsumen. Melalui komunikasi interaktif dengan konsumen, Monomolly mampu mengembangkan produk yang sesuai dengan keinginan konsumen. Ketika ada beberapa konsumen yang konsultasi fashion, maka hal tersebut menjadi bahan evaluasi dan inspirasi pengembangan produknya. Bahkan, banyak pengikut Monomolly yang membantu memilih warna dan model produk Monomolly, jadi ketika produk diluncurkan, konsumen dapat memilih warna sesuai dengan apa yang mereka inginkan. 

3. Optimalkan Sosial Media

Monomolly memang awalnya mempromosikan produknya lewat sosial media, yakni Instagram. Hingga saat ini, instagram monomolly.id memiliki 432 ribu pengikut. Monomolly sangat mengikuti tren, saat tren Squid Game, mereka juga membuat konten serupa. Selain itu, monomolly juga aktif membuat konten video pendek di fitur reels instagram dan di TikTok.

Itu dia beberapa strategi marketing yang dilakukan oleh Monomolly, meskipun demikian tentu banyak strategi marketing lain yang dilakukan, seperti optimalisasi penjualan di e-commerce, influencer marketing seperti endorsement, dll. Yuk, mulai aja dulu dengan apa yang kita punya! Jangan lelah berproses, teman-teman UMKM!


Bagikan artikel ini bila bermanfaat!

Tinggalkan Balasan