FOMO Marketing: Sisi Baik dan Buruknya

Bagikan artikel ini bila bermanfaat!

FOMO alias Fear of Missing Out kerap menjadi strategi marketing untuk membuat orang-orang membeli produk atau jasa suatu usaha.

Menurut Trustpulse, 7 dari 10 pengguna media sosial pernah merasakan FOMO dan 45% pengguna tidak dapat bertahan tanpa melihat media sosial lebih dari 12 jam.

Sisi baiknya…

Kita sebagai konsumen memiliki kecenderungan menghindari suatu risiko terutama di era pandemi seperti ini. Ketika kamu menjadi pemilik usaha, kamu pasti mengerti bagaimana FOMO efektif untuk menarik para pembeli.

Selain menarik kecenderungan untuk membeli, menggunakan FOMO membuat konsumen kamu loyal mengikuti media sosial usaha kamu.

Banyak yang menggunakan FOMO marketing karena sebagian besar orang takut menghadapi risiko dan ketidaknyamanan. (Sumber: unsplash.com/photos).
Banyak yang menggunakan FOMO marketing karena sebagian besar orang takut menghadapi risiko dan ketidaknyamanan. (Sumber: unsplash.com/photos).

Bagaimana cara menggunakan FOMO untuk marketing?

Menurut crazyegg ada beberapa trik FOMO marketing yang dapat kamu lakukan, yaitu sebagai berikut.

  • Memberi promosi pada event tertentu atau dengan waktu terbatas. Promosi bisa dalam bentuk diskon atau paket produk.
  • Kutip ungkapan dari selebriti atau influencer. Jika keberadaan sosial media dan usahamu sudah kuat, kamu bisa gunakan influencer marketing.
  • Tunjukkan testimoni atau social proof dengan format before – aftercustomer’s message.
  • Produk atau layanan terbatas juga merupakan bagian dari FOMO marketing. Contohnya adalah seasonal menu dari McDonald’s yang terus mengundang rasa penasaran.
  • Libatkan pengikut sosial media usahamu dengan challenge atau event tertentu untuk menumbuhkan brand awareness pada orang-orang terdekat para pengikutmu.

Kalau ada sisi baiknya, pasti ada sisi buruknya juga

Namanya juga Fear of Missing Out, kalau kamu gunakan metode ini sembarangan, kamu bisa saja menumbuhkan kecemasan untuk kamu dan juga konsumen kamu.

Karena terpaku banget dengan FOMO, kreativitas untuk membuat pemasaran usahamu dengan orisinal dan tepat malah berkurang. Nantinya, kamu malah cuma ikut-ikutan metode pemasaran yang belum tentu cocok dengan target pasar kamu.

FOMO juga dapat mempengaruhi psikologis kamu dan konsumen kamu. (Sumber: unsplash.com/photos).

Jadi, jangan FOMO banget deh

Ada beberapa saran dari Cleverism supaya kamu tidak terpaku pada metode FOMO terus.

  • Buat prediksi tren di masa depan. Jadi, ketika usaha lain terpaku dengan FOMO, kamu bisa mempertahankan eksistensi usahamu dengan data dan strategi yang sudah kamu kumpulkan.
  • Ketimbang coba-coba strategi FOMO yang belum tentu berhasil, kamu bisa gunakan kembali metode pemasaran usahamu yang paling sukses. Siapa tahu, ini bisa jadi salah satu ciri khas usahamu.
  • Prioritaskan sudut pandang kustomer kamu saat membuat strategi marketing. Seperti yang sudah kita bicarakan sebelumnya, tidak semua strategi FOMO bisa berhasil menarik target pasar kita. Jadi, pertimbangkan pendapat mereka juga ya.


Bagikan artikel ini bila bermanfaat!

Tinggalkan Balasan