Mengenal Hustle Culture, Baik atau Buruk??

Bagikan artikel ini bila bermanfaat!

Hallo, bosquee!! Kembali lagi dengan gue Sabar sebagai content writer boskonten yang lagi berada di budaya hustle culture.

Kenapa gue terpapar virus hustle culture ini ya padahal harusnya gue gaboleh nerapi budaya yang sangat-sangat menguras tenaga ini sih.

Gue yakin, lo pada pasti lagi ngalamin apa yang gue rasakan.

Kita pasti beranggapan jika jadwal yang padat pastinya kita menjadi seseorang yang sangat berharga.

Well, budaya itu sangat-sangat menyiksa jika seseorang belum punya time management yang baik dan gue yakin dia ga akan sanggup ngejalanin nya.

Hustle Culture itu apa sih?

“Kepala, pundak, kerja lagi, kerja lagi”

Di zaman yang semakin dinamis ini membuat sebagian orang menjadi “gila kerja”. Fenomena ini lah yang dinamakan dengan hustle culture.

Hustle culture merupakan budaya yang tergila-gila dengan kerja.

Gila kerja tuh yang kayak gimana?? Ya kayak seharian lo kerjaan nya di depan laptop dengan berbagai kerjaan yang terlalu over. Hustle culture ini sendiri dikenal pada tahun 1970an.

Contohnya kayak gue yang lagi internship di 4 tempat sekaligus dengan beragam job description yang beraneka ragam. Musathil banget kan dikerjakan seharian. Bagi kebanyakan orang sih bilang yang gue lakuin adalah toxic positivity.

Penganut hustle culture percaya bahwa apa yang ia lakukan tak pernah cukup untuk mencapai kesuksesan.

Apa saja sih penyebab dari hustle culture??

Hustle Culture tidak muncul begitu saja. Ada beberapa faktor yang menyebabkan kebiasaan/budaya tersebut itu muncul sebagai berikut:

Pengaruh teknologi

Kemajuan teknologi jadi penyebab hustle culture menyebar dengan cepat. Smartphone yang lo miliki tak hanya berfungsi untuk berkomunikasi, melainkan sarana untuk bekerja. Mengirim email, menyusun presentasi, video call dengan atasan, hingga mengadakan diskusi antar tim bisa dilakukan dalam aplikasi yang tersedia di ponsel.

Terjerebab dari Konstruksi Sosial

Jabatan dan finansial telah menjadi tolak ukur kesuksesan hidup. Lo semakin melejit karir seseorang, otomatis hidupnya semakin mapan. Siapa yang berhasil membeli aset di usia muda, akan menjadi patokan bagi orang-orang di sekelilingnya.

Toxic Positivity

Menurut Dr. Jaime Zuckerman, Psikolog Klinis di Pennsylvania, toxic positivity adalah dorongan untuk tetap berasumsi positif walaupun sedang mengalami situasi tertekan. Asumsi ini bersumber dari dalam hati atau perkataan orang di sekitar. Seringkali kita merasa lelah karena pekerjaan yang menumpuk. Alih-alih berhenti, malah muncul kalimat seperti:

“Jangan nyerah, kamu pasti bisa. Ayo kerja lagi!”

“Masa gitu aja capek? Kapan suksesnya?”

Dampak Positif dan Negatif dari Budaya Hustle Culture apa aja ya??

Dampak Positif

Bagi Perusahaan

Bagi perusahaan yang lo tempati, ini merupakan anugerah paling te

rindah. Mengapa?? Karena mereka akan memiliki karyawan-karyawan yang siap tempur dan produktif selama 24 jam. Orang bilang sih “gaji office boy kerjaan general manager” .

Selangkah lebih maju dari temen-temen

Menurut anggapan gue, menerapkan budaya ini membuat gue selangkah lebih maju dari temen-temen gue. Yak arena gue merasa setiap hari gue belajar ilmu baru yang tentunya gapernah didapat di bangku pendidikan formal. Bener ngga??

Menumbuhkan sikap multitasking

Gue ngelihat setiap perusahaan membutuhkan orang-orang yang memiliki multitasking dalam requirement nya. Ketika lo udah ngelatihan multitasking ini sedari awal, lo ga akan keteteran ketika pekerjaan lo setinggi gunung. Lo akan enjoy dan menikmati pekerjaan itu selayaknya pacaran dengan doi lo sendiri.

Dampak Negatif

Merusak work-life balance

Meraih work-life balance adalah salah satu impian dari para pekerja di mana mereka dapat menyeimbangkan waktu antara bekerja dengan kehidupan pribadi. Hustle Culture membuat para penganutnya harus bekerja lebih keras dengan harapan bisa menghasilkan penghasilan yang lebih besar.

Menggangu kesehatan fisik

Bagi mereka yang menerapkan Hustle Culture, hal ini akan berdampak negatif terhadap fisik mereka. Tubuh akan kelelahan bahkan berujung pada kematian jika para pekerja tidak segera mengatasi kebiasaan ini.

Menggangu kesehatan mental

Bekerja melebihi batas normal juga bisa mengganggu kesehatan mental dan emosional. Hasil riset yang dilakukan oleh sejumlah mahasiswa di Korea Selatan menunjukkan bahwa dari 3,332 pekerja, mayoritas dari mereka mengalami stres, depresi, dan cenderung ide bunuh diri.

Sekian deh dari budaya hustle culture ini. Gue harap lo bisa mengendalikan emosional yang ada di pikiran lo sendiri, agar tidak terjatuh sakit atau bahkan kematian. Jika ada temen lo yang lagi ngalamin ini coba di share ke dia ya. Bye!!


Bagikan artikel ini bila bermanfaat!

Tinggalkan Balasan