Perjalanan Starbucks, Kedai Kopi yang Sukses Mendunia

Bagikan artikel ini bila bermanfaat!

Siapa sih yang tak kenal Starbucks? Kedai kopi berlogo Siren asal Amerika Serikat ini pasti sering Anda jumpai di berbagai sudut kota. Bagaimana tidak, dalam perjalanannya selama lebih dari setengah abad, Starbucks berhasil bertransformasi dari hanya 1 toko biji kopi hingga menjadi 30.000 kedai kopi di seluruh dunia. Perkembangan bisnis yang sangat masif bukan? Tertarik untuk mengikuti perjalanan Starbucks? Simak artikel ini sampai habis ya!

Perjalanan Starbucks, Dari Sebuah Toko Kecil Pengecer Biji Kopi

Pada awal didirikannya, Starbucks hanyalah sebuah toko kecil pengecer biji kopi. Toko ini diinisiasi oleh 3 orang penggemar kopi yaitu Jerry Baldwin, Gordon Bowker, dan Zev Siegl. Pada tahun 1971, Starbucks resmi dibuka di Pike Place Market, Seattle, Amerika Serikat dengan bantuan seorang mentor yaitu Alfred Peet yang sangat berpengalaman di dunia kopi. Mereka mulai bereksperimen dengan teknik roasting yang telah diajarkan Peet untuk menciptakan cita rasa yang khas meski hanya berbekal alat roaster bekas.

Perjalanan Starbucks
Pendiri Starbucks Coffee, dari kiri, Zev Siegl, Jerry Baldwin dan Gordon Bowker.

10 tahun berlalu, Starbucks berhasil mendirikan 5 toko di Seattle dan terkenal dengan kualitas biji kopinya yang sangat segar. Namun, Siegl memutuskan untuk hengkang dari posisinya sebagai salah satu founder Starbucks. Di tahun 1981, seorang sales bernama Howard Schultz dari perusahaan perabotan rumah tangga yang juga mitra kerja Starbucks, mengunjungi lokasi toko biji kopi ini sesaat ketika ia menyadari betapa besarnya peluang yang dimiliki Starbucks. Schultz sangat terkesan hingga ia kemudian bekerja di Starbucks sebagai kepala marketing di tahun berikutnya.

Perjalanan Starbucks
Howard Schultz

Perjalanan Starbucks Menjadi Cafe

Schultz menyadari bahwa konsumen baru terkadang merasa bingung ketika datang ke Starbucks. Kemudian ia merancang sebuah skill penjualan yang customer-friendly dan menuangkannya dalam wujud sebuah brosur yang dapat memudahkan konsumen untuk mengenal produk-produk kopi yang dijual Starbucks. Di tahun 1983, kunjungan Schultz ke Italia mendatangkan sebuah ide cemerlang. Ia melihat berbagai cafe bertebaran di Kota Milan dan karena itulah ia terinspirasi untuk mengubah Starbucks menjadi sebuah cafe di mana konsumen bisa menikmati seduhan kopi secara langsung.

Kunjungan Schultz ke Italia pada 1983

Sayangnya, ide brilian Schultz tidak diterima Baldwin dan Bowker sebab mereka tidak ingin merubah asal-muasal Starbucks yang terkenal sebagai toko pengecer biji kopi. Melihat idenya ditolak begitu saja, Schultz kemudian meninggalkan Starbucks di tahun 1985 dan memulai bisnis kopinya sendiri yang kemudian sukses berkembang di berbagai kota. Dua tahun kemudian, Baldwin dan Bowker memutuskan untuk menjual Starbucks seharga $3.8 juta yang kemudian disambut hangat oleh Schultz dengan bantuan investor. Schultz mengkombinasikan inisial Starbucks dengan konsep cafe yang telah ia miliki. Ia juga tetap menjual biji kopi hingga alat-alat pembuat kopi di Starbucks.

Kedai kopi Starbucks setelah diambil alih Schultz

Di bawah kepemimpinan Schultz, dalam 4 tahun Starbucks berhasil memiliki lebih dari 100 kedai. Starbucks memasuki periode kejayaannya setelah go public di tahun 1992. Di tahun 1996, Starbucks berhasil menjangkau Jepang dan Singapore. Saat itu, Starbucks menjadi coffeehouse chain terbesar di dunia dengan memiliki 2500 lokasi di berbagai negara pada tahun 1999. Satu tahun kemudian, jumlah cabang Starbucks sukses menyentuh angka 3500. Di tengah kejayaannya, Schultz mengumumkan akan turun jabatan dari CEO, namun ia tetap menjadi chairman.

Ekspansi ke Seluruh Dunia

Starbucks terus melakukan ekspansi ke seluruh penjuru dunia. Pada tahun 2007, telah tercatat sebanyak lebih dari 15.000 lokasi Starbucks di seluruh dunia. Tetapi, terjadi penurunan penjualan yang cukup signifikan di setiap toko. Schultz kembali menjadi CEO di tahun 2008. Ia mengawasi penutupan 900 toko dan menerapkan strategi baru dengan mengakuisisi bakery dan coffee-brewer untuk mengenalkan kopi instan. Ia juga mengawasi perubahan menu pada tokonya yang kemudian berhasil dan finansial Starbucks kembali pulih di tahun 2012.

Perjalanan Starbucks
Starbucks Reserve Roastery di Chicago

Schultz kemudian digantikan oleh Kevin Johnson yang menjadi CEO di tahun 2017. Meski begitu ia tetap menjadi kepala eksekutif hingga tahun 2018 dan digantikan oleh Myron Ullman. Setahun kemudian Starbucks membuka gerainya yang terbesar di Chicago dengan nama Starbucks Reserve Roastery. Hingga kini, Starbucks telah menjamah berbagai negara di seluruh belahan dunia dan mengoperasikan lebih dari 32.000 toko. Bahkan Starbucks berhasil menguasai sebanyak 57% cafe market di seluruh dunia dengan nilai lebih dari $80 miliar.

Konsistensi, Inovasi, dan Misi Sederhana

Kisah sukses Starbucks ini tentu melewati berbagai tantangan yang tidak mudah. Namun, Starbucks tidak pernah berhenti untuk terus memperbaiki kekurangannya dan gencar melakukan inovasi. Starbucks juga sangat memperhatikan konsistensi produk dan layanannya. Tak hanya itu, keberhasilannya saat ini juga diperoleh dari setiap upaya yang dilakukan Starbucks untuk menyajikan pengalaman unik kepada konsumennya.

Satu poin yang tak kalah penting, Starbucks memiliki satu misi sederhana yang terus mereka pegang yaitu: “To inspire and nurture the human spirit-one person, one cup, and one neighborhood at a time”. Misi itulah yang membuat Starbucks dikenal tidak hanya sebagai kedai kopi saja, melainkan sebagai tempat untuk beristirahat, bekerja, dan bersosialisasi.

Sangat menarik ya perjalanan Starbucks? Perjuangan yang patut diacungi jempol! Bagaimana pendapat Anda? Tuliskan pendapat Anda di kolom komentar ya!


Bagikan artikel ini bila bermanfaat!

Tinggalkan Balasan