Psikologi Marketing: Strategi Terbaik untuk Tingkatkan Penjualan

Bagikan artikel ini bila bermanfaat!

Ada banyak sekali strategi marketing yang bisa Anda pelajari. Namun, sudahkah Anda mempelajari psikologi marketing? Secara teknis, psikologi marketing merupakan sebuah strategi marketing yang menggunakan pendekatan psikologis manusia sebagai target pasar perusahaan.

Setiap marketer pasti ingin mengetahui apa saja yang membuat konsumen tertarik untuk membeli atau mengapa konsumen lebih memilih sebuah brand daripada brand lainnya. Seluruh jawaban atas pertanyaan tersebut tertuang dalam psikologi marketing.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa fenomena psikologis dapat mempengaruhi cara konsumen dalam membuat keputusan pembelian. Dengan memahami psikologi marketing, sebuah perusahaan akan lebih mudah untuk meningkatkan penjualan. Karena itu, perhatikan 5 strategi psikologi marketing berikut ini ya!

psikologi marketing

1. Bukti Sosial (Social Proof)

Anda pasti sering melihat fenomena bahwa mayoritas orang cenderung membuat keputusan berdasarkan perilaku orang lain di sekitarnya. Lalu, apa hubungannya dengan marketing?

Orang cenderung membeli produk atau menggunakan jasa setelah melihat orang lain menggunakannya. Testimoni positif, jumlah orang yang membeli, hingga rekomendasi dari influencer merupakan contoh dari social proof. Ketiga hal tadi mampu mempengaruhi konsumen agar membeli produk atau jasa Anda.

Social proof sangat membantu untuk menarik calon konsumen. Mengapa demikian? Sebab, calon konsumen umumnya belum pernah menggunakan produk atau jasa Anda. Karena itulah mereka cenderung melihat dan menilai dari pengalaman konsumen lain yang telah menggunakannya.

Anda bisa mem-posting testimoni-testimoni konsumen pada sosial media brand Anda. Atau, Anda juga bisa menggunakan program referral untuk mendorong konsumen agar menyebarkan kesan positif mengenai brand Anda.

2. Kesan Langka (Scarcity)

Barang yang langka biasanya sangat bernilai. Contohnya saja seperti emas dan berlian yang kelangkaannya menjadikan mereka barang yang mahal. Prinsip psikologis ini menunjukkan bahwa orang akan menganggap suatu produk bernilai tinggi jika jumlahnya terbatas.

Hal tersebut juga berlaku dalam dunia marketing. Orang akan membeli produk ketika mengganggap produk tersebut memiliki jumlah yang terbatas. Tak jarang mereka juga bersedia untuk membayar dengan harga yang lebih tinggi. Perilaku konsumen tersebut juga berkaitan dengan aspek psikologis FOMO (fear of missing out) atau sering dikenal dengan istilah ‘takut ketinggalan’.

Konsumen cenderung tidak ingin merasa ‘ketinggalan’ untuk membeli sebuah produk yang cepat habis terjual. Scarcity memberikan kesan urgency yang mempengaruhi pembelian impulsif.

Untuk membuat kesan scarcity ini, berikan penawaran yang sifatnya terbatas baik itu dari segi jumlah maupun waktu. Gunakan kata-kata seperti “untuk 100 pembeli pertama” atau “promo berakhir dalam 7 hari” untuk memberi tahu konsumen bahwa mereka akan ‘ketinggalan’ jika tidak membelinya sekarang.

3. Teknik Resiprokal (Reciprocity)

Resiprocity atau resiprokal adalah sebuah keadaan dimana Anda merasa ‘berhutang’ ketika seseorang memberikan hadiah atau melakukan sesuatu secara cuma-cuma kepada Anda. Dalam psikologi marketing, konsumen cenderung merasakan hal yang sama ketika sebuah perusahaan memberikan mereka produk atau layanan gratis.

Anda bisa melakukan penawaran berupa sampel produk atau gratis berlangganan selama seminggu untuk mendapatkan informasi terkait konsumen potensial. Jangan lupa tonjolkan ‘hadiah’ untuk konsumen ketika memakai produk atau jasa Anda. Kemudian, buatlah arahan agar konsumen dengan sukarela ingin membeli produk atau berlangganan jasa yang Anda tawarkan.

4. Prinsip Anti Rugi (Loss-Aversion)

Sebagai konsumen, kita pasti pernah mengalami hal di mana kita lebih memilih untuk membeli produk lebih banyak agar mendapatkan gratis ongkos kirim daripada membeli satu produk tetapi harus membayar ongkos kirim. Hal inilah yang dinamakan loss-aversion atau prinsip anti rugi.

Faktanya, manusia akan lebih kesal ketika kehilangan Rp 500.000 dibandingkan merasa senang ketika mendapatkan uang tersebut. Mengapa demikian? Hal tersebut kemungkinan disebabkan oleh rasa cemas dan takut yang berkaitan erat dengan kehilangan. Manusia lebih mudah mengingat hal yang menyakitkan bagi mereka daripada hal yang membuat mereka senang. Emosi negatif juga memiliki dampak yang lebih kuat dan lebih membekas.

Dalam marketing, prinsip loss-aversion bertujuan untuk ‘menakut-nakuti’ konsumen bahwa mereka mungkin akan kehilangan sesuatu yang telah mereka miliki. Seperti contohnya, konsumen akan kehilangan layanan yang mereka gunakan secara gratis ketika masa free trial-nya telah habis.

Atau, konsumen akan mendapatkan kupon gratis ongkos kirim jika mereka memenuhi syarat minimum pembelian. Anda lebih baik menunjukkan pada konsumen bahwa mereka akan kehilangan sejumlah uang (ongkos kirim) daripada menunjukkan biaya yang kurang untuk mecapai minimum pembelian.

5. Strategi Perbandingan Harga (Anchoring Bias)

Anchoring bias merupakan istilah yang menggambarkan kondisi di mana konsumen akan mengevaluasi harga dan produk berdasarkan informasi awal yang mereka dapatkan. Strategi ini sering digunakan untuk memikat konsumen melalui perbandingan harga.

Katakanlah sebuah brand akan meluncurkan produk terbarunya dengan harga Rp 100.000. Namun di hari peluncurannya, brand tersebut memberikan promo menarik sehingga produk tersebut hanya dijual sebesar Rp 50.000. Dengan begitu, konsumen akan berlomba-lomba untuk membeli produk tersebut karena mereka menganggap harga promo jauh lebih murah dibandingkan harga aslinya.

Prinsip psikologi marketing ini juga sering Anda temui ketika berbelanja di marketplace. Tak sedikit penjual yang memasang harga promo pada tokonya bersamaan dengan harga aslinya. Padahal, bisa jadi harga promo tersebut memang harga aslinya. Harga asli menjadi patokan konsumen sehingga mereka akan menganggap bahwa penawaran promo tersebut lebih menguntungkan.

Itulah 5 strategi psikologi marketing yang bisa Anda terapkan untuk meningkatkan penjualan. Pendekatan psikologis sudah banyak digunakan sejumlah brand ternama dalam melakukan marketingnya. Tertarik untuk mencoba?


Bagikan artikel ini bila bermanfaat!

Tinggalkan Balasan