Strategi Anchoring untuk Tingkatkan Konversi

Bagikan artikel ini bila bermanfaat!

Sebagai seorang marketer, Anda pasti tahu bahwa terdapat banyak sekali strategi marketing yang bisa Anda coba. Namun, tahukah Anda strategi apa yang paling efektif untuk meningkatkan konversi? Jawabanya adalah strategi anchoring. Strategi ini sering digunakan oleh perusahaan-perusahaan besar selama bertahun-tahun lamanya dengan cara ‘memanipulasi’ pikiran pembeli untuk membuat keputusan pembelian. Penasaran? Simak artikel ini sampai habis ya!

Apa itu strategi anchoring?

Pada dasarnya, anchoring bias adalah kecenderungan manusia untuk menjadikan hal pertama yang mereka lihat sebagai patokan atau acuan. Dalam membuat keputusan, anchoring sering terjadi ketika informasi pertama memengaruhi cara orang dalam menginterpretasi informasi selanjutnya untuk kemudian membuat kesimpulan.

Misalnya, Anda ingin membeli ponsel terbaru pada sebuah marketplace. Anda kemudian mencarinya pada kolom pencarian dan muncullah berbagai toko ponsel dengan harga yang berbeda-beda. Tanpa Anda sadari, harga yang pertama kali Anda lihat akan menjadi acuan untuk membandingkannya dengan harga di toko lain.

Katakanlah harga yang pertama kali Anda lihat adalah Rp 3.000.000. Kemudian Anda melihat ponsel serupa di toko lain yang harganya Rp 2.500.000. Otomatis Anda akan menganggap toko kedua menawarkan harga yang lebih murah. Lalu Anda menemukan toko ketiga yang menjual ponsel tersebut pada harga Rp 4.000.000. Anda pasti akan berasumsi bahwa ponsel di toko ketiga lebih mahal bukan?

Peristiwa itulah yang dinamakan anchoring bias. Seperti yang telah dibahas pada artikel sebelumnya, anchoring bias biasa digunakan untuk menunjukkan perbandingan harga. Strategi ini pertama kali ditemukan oleh Amos Tversky dan Daniel Kahneman pada tahun 1960-an. Berbagai studi telah menunjukkan bahwa strategi anchoring ini terbukti efektif dalam dunia marketing, terutama untuk meningkatkan konversi.

Contoh Strategi Anchoring

1. Harga normal vs diskon

strategi anchoring

Contoh pertama ini sudah banyak digunakan para penjual di marketplace. Umumnya mereka menaruh harga setelah diskon tepat di samping harga normal. Dalam contoh ini, harga normal berperan sebagai anchor atau acuan yang merepresentasikan harga asli dari produk tersebut. Harga diskon akan menjadi sorotan karena konsumen menganggap harga tersebut lebih murah dan lebih menguntungkan daripada harga normal. Dengan begitu, konsumen tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini dengan membeli produk tersebut.

2. Harga bulanan vs tahunan

strategi anchoring

Strategi yang kedua ini biasa dipakai oleh penjual jasa seperti Zoom. Jika Anda perhatikan, harga paket untuk berlangganan selama setahun ternyata lebih murah daripada harga paket per bulannya. Bukankah lebih menguntungkan jika membayar $149.90 untuk setahun daripada $14.99 per bulan? Anda juga bisa membuat promonya lebih menarik dengan menaruh jumlah uang yang akan konsumen hemat jika memilih paket tahunan.

3. Paket bundling

strategi anchoring

Taktik ini paling sering Anda temui di supermarket atau marketplace. Paket bundling biasanya terdiri dari beberapa produk yang sama ataupun berbeda dengan harga yang lebih terjangkau. Seperti contohnya, Anda bisa mendapatkan tiga botol sampo hanya seharga Rp197.800 daripada membeli satu botol dengan harga Rp84.500. Kuncinya, buatlah kesan bahwa konsumen akan menghemat uangnya dengan membeli paket bundling meskipun mereka tidak terlalu membutuhkan produk tersebut dalam jumlah banyak.

4. Manipulasi persepsi harga

Pernahkah Anda bertanya mengapa toko ponsel cenderung memajang ponsel termahalnya pada display paling depan? Ternyata, hal tersebut berkaitan dengan strategi anchoring. Ketika Anda melewati ponsel termahal itu, katakanlah harganya Rp 20 juta, maka ponsel lain yang harganya Rp 10 juta terdengar tidak begitu mahal. Apalagi, jika merek ponsel tersebut sedang hype. Orang-orang secara sukarela menguras kantong mereka untuk mendapatkan ponsel tersebut meski nyatanya banyak ponsel lain dengan spec yang sama dan harga yang lebih murah.

5. Gear Acquisition Syndrome

Gear Acquisition Syndrome (GAS) merupakan istilah untuk menggambarkan kebiasaan seseorang yang selalu ingin membeli barang baru untuk melengkapi koleksinya. Biasanya hal ini terjadi pada pecinta gadget yang selalu ingin membeli gadget keluaran terbaru meskipun gadget lamanya masih berfungsi dan layak pakai.

Pada kasus ini, gadget yang telah mereka miliki menjadi anchor. Karena itulah ketika mereka melihat gadget terbaru, mereka ingin membelinya sebab menganggap gadget baru tersebut lebih canggih dan inovatif. Tidak heran mengapa para produsen gadget berlomba-lomba untuk memperbarui fitur dan spesifikasi produk mereka meski sebenarnya inovasi tersebut tidak terlalu dibutuhkan.

Dari kelima contoh tersebut, dapat Anda lihat bahwa strategi anchoring merupakan taktik yang paling efektif bagi para marketers untuk meningkatkan konversi. Nyatanya, kita pasti pernah tergiur untuk membeli sebuah produk karena penawarannya yang menarik padahal kita tidak terlalu membutuhkannya. Oleh sebab itu, jika Anda seorang marketer, pastikan Anda membuat strategi anchoring yang menarik.

Semoga bermanfaat!


Bagikan artikel ini bila bermanfaat!

Tinggalkan Balasan